Peran Hukum Islam Dalam Masyarakat

Peran Hukum Islam Dalam Masyarakat

Peran Hukum Islam dalam Masyarakat

Peran Hukum Islam Dalam Masyarakat

Syari’at Islam

Sebagai jalan hidup (WAY OF LIFE), Syari’at Islam tidak hanya berbicara masalah hukum dan hukuman, melainkan juga berfungi mendidik, membimbing, mengayomi, menjamin keselamatan dan keamanan serta menyejahterakan manusia dalam kehidupan individu, masyarakat, berbangsa dan negara. Hukum Islam memandang manusia secara utuh dan proporsional, mereka bisa berbuat baik ataupun jahat, berlaku benar ataupun salah dalam eksekusi qishas pembunuhan, yang memutuskan bentuk hukuman bagi pelaku adalah masyarakat (ahli waris korban), apakah mereka dibalas bunuh, dimaafkan dengan membayar diyat (denda) atau dimaafkan sama sekali tanpa membayar denda.

Mekanisme pegambilan keputusan

Mekanisme pegambilan keputusan seperti ini akan memberikan kepuasan karena memberi peluang kepada ahli waris korban melakukan interaksi sosial dengan pelaku pembunuhan dan menentukan sendiri keputusannya sekaligus mempertimbangkan akibat-akibatnya. Bisa saja ahli waris yang kaya memaafkan sama sekali pelaku pembunuhan, karena dia seorang miskin dan menjadi satu-satunya tulang punggung ekonomi keluarganya. Atau menerima tebusan dari pelaku tindak pembunuhan yang berkemampuan membayar diyat untuk diberikan kepada keluarga korban yang sangat membutuhkan. Sementara hukum penjara yang berlaku di dunia modern sekarang ini tidak mampu membangun interaksi sosial dengan seperti yang ditawarkan Syari’at Islam, bahkan sebaliknya melanggar hak-hak asasi pelaku tindak pidana.

Seorang peneliti dari Australia yang pernah tinggal beberapa tahun di Aceh mendatangi Posko Korps Relawan Mujahidin di Darussalam (rumah alm. Prof. Dr. Sofwan Idris, mantan rektor IAIN Arraniry Aceh) ketika musibah tsunami. Dia menceritakan pengalaman ketika ada seorang pencuri diadili oleh pemuka agama di sebuah kampung. Di hadapan warga kampung, si pelaku dapat membuktikan bahwa diri dan keluarganya dalam kekurangan dan sangat membutuhkan bantuan, maka dia dibebaskan dari hukuman. Kemudian tanggungjawab jaminan kebutuhan mereka dibebankan kepada warga yang kaya-kaya. Hal seperti ini tidak mungkin diperoleh dalam peradilan sekuler, alih-alih asasi dan nilai kemanusiaan yang berakibat buruk bagi kehidupan masyarakat.

Karakteristik hukum islam menurut Habsy Ash-Shiddiqie

Karakteristik hukum islam menurut Habsy Ash-Shiddiqie yaitu, takamul (utuh), wasatiyah (harmonis) dan harakah (dinamis). Sedang menurut Minardi Mursyid hukum Islam bersifat komprehensif dan universal. Komprehensif itu meliputi semua aspek dan bidang kehidupan yang secara garis besar dapat diklasifikasi menjadi tiga sub-sistem yaitu : Aqidah, Syariah dan Akhlak.
Ada 2 teori tentang karakteristik hukum islam, yaitu (1) Teori eternalitas dan (2) Teori adaptasiblitas atau elastisistas hukum Islam. Teori eternalitas menyatakan bahwa dalam konsepnya dan menurut sifat perkembangannya serta metodologinya hukum Islam adalah abadi, statis, final dan mutlak yang karenanya tidak bisa beradaptasi dengan perubahan sosial. Sedangkan teori elastisistas hukum Islam yang dipegangi oleh sejumlah ahli dalam bidang Islam seperti, Linant de Ballefonds dan mayoritas reformis serta yuris muslim, menyatakan bahwa prinsip-prinsip hukum Islam sebagai pertimbangan maslahah. hukum Islam bisa beradaptasi dengan perubahan sosial. Hukum Islam merupakan bagian integral dari syari‟ah, bersifat dinamis dan relevan untuk setiap zaman dan tempat.

 

Sumber: https://www.modelbajumuslimbatik.com/