Bantuan siswa miskin disalahgunakan

Bantuan siswa miskin disalahgunakan

Bantuan siswa miskin disalahgunakan

Bantuan siswa miskin disalahgunakan
Bantuan siswa miskin disalahgunakan

Bantuan Siswa Miskin (BSM) yang semestinya digunakan untuk biaya pendidikan disalahgunakan. Keluarga memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari.

Anggota Komisi X DPR Herlini Amran mengatakan, banyak kasus yang diterima di Kepulauan Riau (Kepri) bahwa BSM tidak sesuai peruntukan. Dia menuturkan, ada 40.000 siswa yang mendapat BSM di Kepri. Namun keluarga dan juga siswa menggunakannya untuk urusan di luar pendidikan. “BSM itu untuk membantu biaya sekolah. Bukan untuk biaya kebutuhan sehari-hari,” katanya di Jakarta, Jumat, 3 Januari 2014.

Politikus PKS ini menambahkan, perilaku ketidakjujuran dalam keluarga ini

dapat menjadi benih-benih perilaku korupsi. Padahal semestinya kejujuran itu dapat dimulai dari keluarga. Jika dipakai tidak sesuai peruntukan, tukasnya, BSM seharusnya ditinjau ulang oleh pemerintah. Jika tidak, tegasnya, akan berbahaya bagi program pendidikan generasi mendatang.

Direktur Pembinaan SMP Ditjen Pendidikan Dasar (Dikdas) Kemendikbud Didik Suhardi menerangkan, BSM memang diperuntukkan untuk pembiayaan pendidikan siswa miskin. Pemerintah pun sudah mengeluarkan buku petunjuk teknis pemanfaatan BSM. Di dalam buku tersebut, ujarnya, BSM digunakan untuk pengeluaran yang sifatnya personal seperti untuk membeli buku, seragam, sepatu dan juga alat transportasi siswa seperti sepeda.

“Tujuan BSM itu agar ada tambahan dana bagi siswa supaya sekolah dengan nyaman. Karena ada banyak siswa yang pergi ke sekolah dengan bertelanjang kaki. Toh pemerintah sudah memberikan BOS agar siswa digratiskan dari biaya pendidikan,” ujarnya.

Didik mengungkapkan, beberapa informasi mengenai penyalahgunaan BSM akan ditelusuri lebih lanjut oleh Kemendikbud. Ada baiknya, ujar Didik, jika informasi itu dijelaskan lebih lengkap yakni dengan menyebutkan nama sekolah dan atau siswa yang dimaksud. Penyelidikan nantinya akan melibatkan pemerintah daerah setempat agar hasilnya segera dapat diketahui.

Dia pun menjelaskan, diperlukan sosialisasi lebih lanjut kepada para orangtua

mengenai peruntukan BSM tersebut. Pemerintah sebetulnya awalnya sudah mengantisipasi penyalahgunaan BSM oleh pihak sekolah. Yakni dengan langsung mengirimnya ke rekening siswa. “Tetapi memang rumitnya jika uang itu sudah ada di tangan orang tua. Sang anak pun juga takut membantah jika orang tua ingin memakai dana itu untuk keperluan lain,” terangnya.

Didik menerangkan, pada awalnya BSM digulirkan karena pemerintah melihat kemiskinan masih menjadi faktor penyebab utama siswa putus sekolah. Fenomena putus sekolah ini bahkan dikhawatirkan semakin meningkat seiring tingginya angka inflasi harga di Indonesia. Kebijakan subsidi ini pun digulirkan karena UUD 1945 mengamanatkan pemerintah untuk memberikan kesempatan luas bagi rakyat tanpa melihat latar belakang sosial dan ekonomi untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Berdasarkan data, pada 2014 ini ada 12,86 juta siswa dan mahasiswa miskin yang mendapat BSM

. Rinciannya SD BSM akan dibagikan untuk 8.062.561 siswa, SMP 2.893.187 siswa, sekolah menengah 1.696.975 siswa dan 219.799 mahasiswa.

Satuan biaya BSM pun naik. Bagi siswa SD dari Rp360.000 ke Rp450.000, SMP Rp560.000 ke Rp750.000, sekolah menengah tetap mendapat Rp1 juta dan perguruan tinggi Rp12 juta.

800 siswa miskin di Maros terima BSM ‎

 

Sumber :

http://blog.ub.ac.id/petrusarjuna/ciri-dan-jenis-jaringan-meristem-beserta-contohnya/