Hubungan dan Fungsi Bahasa, Seni dan Agama

Hubungan dan Fungsi Bahasa, Seni dan Agama

Hubungan dan Fungsi Bahasa, Seni dan Agama

Hubungan dan Fungsi Bahasa, Seni dan Agama
Hubungan dan Fungsi Bahasa, Seni dan Agama

1. Bahasa

Suku-suku bangsa di berbagai daerah di Indonesia memiliki bahasa masing-masing sebagai alat komunikasi, antara lain sebagai berikut;
  • Dalam pergaulan antarsesamanya suku bangsa Aceh berbicara dengan bahasa daerahnya sendiri, yaitu bahasa Aceh.
  • Masyarakat Tapanuli dalam pergaulan di antara mereka sendiri berbicara dengan bahasa Batak.
  • Demikian halnya suku bangsa Melayu, Jawa, Betawi, Sunda, Bugis, Makassar, Ambon, Papua dan sebagainya mereka berbicara dengan sesamanya menggunakan bahasa daerah masing-masing.
Betapa beragamnya suku-suku bangsa di Indonesia, mereka berbicara menggunakan bahasa daerahnya masing-masing. Jika kedapatan ada seseorang dari suku bangsa Jawa berbicara dalam bahasa Jawa di hadapan orang dari suku bangsa Bugis yang sama sekali tidak mengerti bahasa Jawa, tentu saja tidak akan terjadi komunikasi. Oleh sebab itu, dalam arena pergaulan antarsuku bangsa digunakan bahasa yang dimengerti oleh semua suku bangsa, yaitu bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sendiri dikembangkan dari bahasa Melayu. Pada waktu itu, bahasa Melayu sudah menjadi bahasa pergaulan, terutama di pelabuhan-pelabuhan dan tempat-tempat bertemunya orang-orang yang datang dari berbagai daerah. Suku bangsa Jawa yang berdagang ke Sumatra misalnya berbicara dengan rekan dagangnya dalam bahasa Melayu. Demikian pula orang-orang dari suku lain dalam pergaulan antarsuku menggunakan bahasa Melayu. Oleh sebab itu, bahasa Melayu merupakan bahasa pergaulan (lingua franca). Berdasarkan kondisi tersebut, maka bahasa Melayu diangkat sebagai bahasa persatuan dengan nama bahasa Indonesia.

2. Kesenian

Seni adalah penggunaan kreatif imajinasi manusia untuk menerangkan, memahami, dan menikmati kehidupan. Dalam kebudayaan-kebudayaan lain, seni sering digunakan untuk keperluan yang dianggap penting dan praktis. Para ahli antropologi telah menemukan bahwa seni mencerminkan nilai-nilai kebudayaan dan perhatian rakyat. Dari hal itu ahli, antropologi dapat mengetahui bagaimana suatu bangsa mengatur negaranya dan mengetahui sejarahnya.
Demikian juga seni musik, patung, dan seni rupa dapat menjadi sarana untuk memahami pandangan dunia seseorang. Adapun melalui studi distribusional, kesenian dapat menjadi gambaran tentang sejarah bangsa.
Di samping menambah kenikmatan dalam hidup sehari-hari, kesenian mempunyai fungsi yang beraneka ragam. Fungsi mitos misalnya menentukan norma untuk perilaku yang teratur, kesenian verbal umumnya meneruskan adat istiadat dan nilai-nilai budaya. Ada juga yang berupa nyanyian, musik, dan lain-lain.
Seni adalah produk jenis perilaku manusia yang khusus, yaitu penggunaan imajinasi kreatif untuk menerangkan, memahami, dan menikmati hidup. Misalnya kita dapat mendengar lagu tentang laut yang monoton demi kepuasan estetis saja.
Namun demikian, pada kenyataannya ketika orang menggunakan perahu layar lagu itu memberi semangat dan sangat bermanfaat. Hubungan antara seni dan aspek-aspek kebudayaan adalah biasa dalam masyarakat di seluruh dunia. Hal itu juga perlu adanya kombinasi khusus yang sama antara lambang yang mewakili bentuk dan ungkapan perasaan yang merupakan imajinasi kreatif. Tanpa adanya permainan-permainan imajinasi kita menjadi bosan, dan dapat mematikan produktivitas.
Oleh sebab itu, kesenian bukan suatu kemewahan yang hanya dimiliki dan dinikmati oleh kelompok kecil seniman, namun juga semua orang yang normal dan ikut serta berperan aktif. Dalam kesenian, kita bebas menciptakan pola, alur cerita, ritme yang sesuai dengan pikiran kita.

3. Agama

a. Pengertian Agama
Agama dapat dipandang sebagai kepercayaan dan pola perilaku, yang diusahakan oleh manusia untuk menaungi masalah-masalah yang tidak dapat dipecahkan dengan teknologi dan teknik organisasi yang diketahuinya. Adapun ciri-ciri untuk mengidentifikasikan agama, antara lain terdiri atas bermacam-macam ritual, doa, nyanyian, tari-tarian, dan kubur untuk memanipulasi kekuatan supranatural yang terdiri atas dewa-dewa, arwah leluhur, maupun roh-roh. Dalam semua masyarakat ada orang-orang tertentu yang memiliki pengetahuan khusus tentang makhluk-makhluk dan kegiatan ritual (keagamaan). Semua agama mempunyai fungsi-fungsi psikologi dan sosial yang penting. Agama mengurangi kegelisahan dan menerangkan apa yang tidak diketahui. Agama menanamkan tentang baik dan jahat juga benar dan salah. Melalui upacara agama dapat digunakan untuk memantapkan pelajaran tentang tradisi lisan.
Menurut mitos, orang Indian Tewa di New Mexico muncul dari sebuah danau sebelah utara tempat kediamannya sekarang. Bagi orang Tewa segala yang ada di dunia terbagi ke dalam enam kategori, yaitu tiga kategori manusia dan tiga kategori supranatural. Kategori supranatural itu tidak hanya dianggap identik dengan manusia, tetapi juga sesuai dengan dunia ilmiah. Alfonso Ortiz seorang ahli antropologi berpendapat bahwa orang Tewa menganggap bahwa agama tidak hanyab logis tetapi berfungsi dalam masyarakat. Agama orang-orang Tewa benar-benar meresapi setiap aspek kehidupan. Itulah dasar pandangan dunia orang Tewa, tentang dunia yang satu, tetapi dualistis. Di dalamnya terdapat banyak titik pertemuan yang menyebabkan keduanya dilestarikan sebagai satu komunitas. Komunitas yang dikeramatkan dengan memberinya suatu asal-usul supranatural dan upacara peralihan (“rites of passage”).
Semua agama memenuhi banyak kebutuhan sosial dan psikologis, seperti kematian, kelahiran, dan lain-lain. Agama dapat menjadi sarana bagi manusia untuk mengingat diri dari kehidupan duniawi yang penuh penderitaan. Fungsi agama secara sosial tidak kalah pentingnya daripada fungsi psikologisnya. Agama tradisional memperkuat norma-norma kelompok.
Norma-norma merupakan sanksi moral untuk perbuatan-perbuatan perorangan dan merupakan nilai-nilai yang menjadi landasan keseimbangan masyarakat. Agama dalam masyarakat tidak hanya menarik pengikut-pengikutnya tetapi telah menimbulkan kebangkitan yang kuat dari orang-orang fundamentalis dengan prasangka anti fundamentalis dan ilmu pengetahuan yang kuat pula. Dalam hal ini, fundamentalis adalah para penganut gerakan keagamaan yang bersifat kolot dan reaksioner ingin kembali pada ajaran-ajaran agama seperti yang terdapat dalam kitab suci. Adapun fundamentalisme merupakan paham yang ingin memperjuangkan sesuatu yang cenderung secara radikal. Contohnya fundamentalisme Islam Ayatullah Khomeini di Iran dan fundamentalisme Kristen dari Jerry dan tokoh-tokoh lain di Amerika Serikat.
Baca Artikel Lainnya: