Hukum Ijtihad dan Eksistensi Mujtahid Sepanjang Massa

Hukum Ijtihad dan Eksistensi Mujtahid Sepanjang Massa

Hukum Ijtihad dan Eksistensi Mujtahid Sepanjang Massa
Hukum Ijtihad dan Eksistensi Mujtahid Sepanjang Massa

Dalam buku ushul fiqih Zen Amiruddin ada tiga kriteria hukum berijtihad, yaitu:

  1. Wajib ain yakni apabila seseorang yang di tanya prihal hukum suatu peristiwa, sedangkan peristiwa itu akan hilang sebelum di tetapkan hukumnya. Demikian pula seseorang yang segera ingin mendapatkan kepastian hukum untuk dirinya sendiri dan tidah ada mujtahid yang bisa segera di temui untuk mendapatkan fatwa perihal hukumnya.
  2. Wajib kifayah yakni bagi seseorang yang di tanya tentang  sesuatu pristiwa hukum, dan tidak di khawatirkan segera hilangnya peristiwa itu, sementara di samping dirinya masik ada mujtahid lain yang lebih ahli.
  3. Sunnah yakni berijtihad terhadap suatu peristiwa hukum yang belum terjadi  baik di tanyakan ataupun tidak ada yang mempertanyakan.

 

Haram yaitu ijtihad

pada dua hal. Pertama, berijtihad terhadap permasalahan yang sudah tegas (qath’i) hukumnya baik berupa ayat atau hadis dan ijtihad yang menyalahi ijma. Kedua, berijtihad bagi seseorang yang belum memenuhi syarat sebagai mujtahid, karena hasil ijtihadnya tidak akan benar tetapi menyesatkan, dasarnya karena menghukumi sesuatu tentang agama Allah tanpa ilmu hukumnya haram.

 

Ulama-ulama Hanbaliyah menetapkan

Bahwa tak ada masa yang kosong dari mujtahid, karena kejadian-kejadian itu terus menerus terjadi. Kebutuhan mengetahui hukum Allah, tetap ada pada setiap zaman. Perlu ditegaskan bahwa ahli agama khilaf tentang ada tidaknya, mengenai mujtahid mutlak. Mengenai mujtahid yang menetapkan hukum, tak ada perselisihan.

 

Eksistensi mujtahid sepanjang masa dari masa Rasulullah saw

Sampai sekarang tidak bisa diragukan lagi. Dahulu ketika muslimin yang hidup di masa Rasulullah saw mau tidak mau berbeda dengan yang dihadapi generasi berikutnya dengan terjadinya kontak dan saling pengaruh mempengaruhi antara Islam dan budaya-budaya lain yang bertetangga dengannya. Sewaktu Rasulullah masih hidup, tak terdapat ilmu macam yurisprudensi. Rasulullah tidak menggolong-golongkan perintah ke dalam wajib, mandub (dianjurkan), haram, makruh, dan mubah sebagaimana dikemukakan dalam teori hukum yang muncul kemudian. Menurut para ahli hukum, setiap tindakan harus masuk ke dalam salah satu dari kelima kategori tersebut. Akan tetapi tidaklah demikian halnya dengan para sahabat ketika Rasulullah masih hidup. Satu-satnya ideal bagi mereka hanyalah perilaku Rasulullah.

Sumber : https://blog.dcc.ac.id/contoh-teks-ulasan/