Lima Siswa di Kota Bandung tak Lulus Unas

Lima Siswa di Kota Bandung tak Lulus Unas

Lima Siswa di Kota Bandung tak Lulus Unas

Lima Siswa di Kota Bandung tak Lulus Unas
Lima Siswa di Kota Bandung tak Lulus Unas

BATUNUNGGAL – Nilai ujian nasional (unas) tertinggi di Kota Bandung diraih oleh siswa Sekolah

Menengah Atas (SMA) Aloysius dengan nilai 413,60 dari program IPA. Sedangkan nilai unas terendah diraih oleh siswa SMA Karya Agung dengan nilai 199,48 dari program IPS.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Elih Sudiapermana, nilai rata-rata unas Kota Bandung terbilang tinggi yaitu di atas 300. ”Untuk rata-rata tertinggi diraih oleh SMK, hal itu karena jumlah SMK di Kota Bandung lebih sedikit di Bandingkan SMA,” katanya kepada Bandung Ekspres ditemui di kantornya, kemarin (8/5).

Pihaknya telah mengimbau kepada setiap sekolah untuk mengantisipasi kegiatan konvoi kelulusan.

Salah satunya dengan memberikan pengumuman kelulusan melalui pos, bukan di sekolah masing-masing.

Ketika ditanya siswa yang tidak lulus, pihaknya mengakui adanya siswa yang tidak lulus. Dia menjelaskan kali ini di Kota Bandung ada lima orang siswa yang tidak lulus unas. ”Satu dari SMAN 5 Bandung dan empat lainnya dari SMK 12 Bandung,” ucapnya.

Sekolah sudah mempertimbangkan mana saja siswa yang tidak lulus. Bukan tanpa alasan sekolah tidak

meluluskan siswanya. Walaupun begitu, pihaknya berharap agar tahun depan nilai UN pada tingkat SMA/sederajat bisa lebih baik lagi. Untuk belajar, semua stakeholder bisa bekerjasama.

Semisal para orangtua yang bisa mengawasi anaknya belajar di rumah. Lalu, para guru ketika di sekolah. Dinas Pendidikan, lanjut dia, bisa mengawasinya dengan sistem pembelajaran. ”Diharapkan tahun depan semua siswa bisa lulus semua untuk Kota Bandung,” harapnya.

Sementara itu, Kepala SMK 12 Kota Bandung M. Lukman membenarkan, jika empat orang anak didiknya dinyatakan tidak lulus. Hal tersebut diambil melalui keputusan musyawarah para guru. ”Dua orang murid sejak awal memang tidak mengikuti unas dan dua orang lagi tidak mengikuti praktik kerja lapangan (PKL),” katanya.

 

Sumber :

https://pharmacygig.com/teks-observasi/