Adaro Gelontorkan Rp1,1 Triliun untuk CSR Pendidikan

Adaro Gelontorkan Rp1,1 Triliun untuk CSR Pendidikan

Adaro Gelontorkan Rp1,1 Triliun untuk CSR Pendidikan

Adaro Gelontorkan Rp1,1 Triliun untuk CSR Pendidikan
Adaro Gelontorkan Rp1,1 Triliun untuk CSR Pendidikan

Jakarta- PT Adaro Energy Tbk (Adaro) akan menggelontorkan dana sebanyak Rp1,1 triliun

untuk program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) bidang pendidikan “Adaro Nyalakan Ilmu” sebagai salah satu bentuk kontribusi dalam pembangunan nasional.

“Dana sebesar itu peruntukannya hanya untuk CSR pendidikan dan sudah diluncurkan sejak pertengahan Juli tahun ini,” kata CSR Division Head PT Adaro Energy Tbk, Okty Damayanti di Jakarta, Rabu (21/11/2018)

Karena itu, kata Okty, pihaknya dapat berpartisipasti aktif pada Filantropi Indonesia Festival

(FiFest) 2018 pada medio bulan ini untuk turut mempercepat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.

Untuk tahun ini, lanjutnya, dukungan perseroan melalui Adaro Foundation mengusung pilar Adaro Nyalakan Ilmu yakni program unggulan pendidikan yang menyasar pendidik dan para peserta didik di Indonesia, khususnya di Kalimantan.

Okty menambahkan, melalui sejumlah program itu pihaknya berupaya sejalan dengan SDGs 2030 dengan ┬ásalah satu prinsip utamanya yaitu “Leaving No One Behind” atau Tidak Meninggalkan Siapapun di Belakang.

“Setiap tujuan yang dipenuhi harus selalu memenuhi kebutuhan semua orang. Dalam program Adaro Nyalakan Perubahan, di dalamnya ada lima pilar, salah satunya Adaro Nyalakan Ilmu,” katanya. Melalui sejumlah program itu, pihaknya fokus mengembangkan program yang dapat meningkatkan kualitas SDM masyarakat dengan memadukan pengetahuan, ketrampilan dan pengembangan karakter. Untuk tahun ini, kata Okty, pihaknya fokus untuk masyarakat di Kalimantan, wilayah kerja Adaro. “Kami ingin menurunkan dispasritas kualitas pendidikan antara Pulau Jawa dan Kalimantan,” katanya.

Okty menjelaskan pihaknya menerapkan lima program unggulan yakni Pelatihan Guru

dan Kepala Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Vokasi (SMK dan Politeknik), Pelatihan Vokasi bagi Pesantren dan Para Santrinya serta Pendidikan Berbasis Teknologi serta Beasiswa.

Menurut Education for All Global Monitoring Report 2011 yang dikeluarkan oleh UNESCO dan berisi hasil pemantauan pendidikan dunia, dari 127 negara, Education Development Index (EDI) atau Indeks Pembangunan Pendidikan Indonesia masih berada pada posisi ke-69.  Jika dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia berada di urutan ke-65 sementara Brunei di urutan ke-34.

Selain itu, laporan tersebut menyatakan bahwa akses pendidikan di Indonesia masih perlu mendapat perhatian karena lebih dari 1,5 juta anak tiap tahun tidak dapat melanjutkan sekolah. Dari sisi kualitas guru dan komitmen mengajar, terdapat lebih dari 54 persen guru memiliki standar kualifikasi yang perlu ditingkatkan dan 13,19 persen bangunan sekolah dalam kondisi perlu diperbaiki.

 

Sumber :

https://ojs.ummetro.ac.id/index.php/lentera/comment/view/699/52999/1692