Pemberlakuan KTSP

Pemberlakuan KTSP

Pemberlakuan KTSP

Pemberlakuan KTSP
Pemberlakuan KTSP

Pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di sekolah sudah berlangsung sejak kurang lebih empat tahun lalu, berawal dari mulai diluncurkannya Permendiknas No. 22, 23 dan 24 tahun 2006. Lazimnya sebuah inovasi atau suatu perubahan, ketika pertama kali dimunculkan pasti akan timbul berbagai masalah dan pertanyaan di lapangan, khususnya di kalangan guru selaku pelaksana utama kurikulum di sekolah.

Seiring dengan perjalanan waktu dan di tengah-tengah ketidakpastian dan kebingungan dalam mengkonsepsikan dan mengimplementasikan KTSP,  saya percaya bahwa hingga saat ini di lapangan para guru terus berupaya untuk dapat memenuhi berbagai tuntutan dan tantangan perubahan ini, tentunya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing dan kondisi nyata di lapangan.

Bersamaan itu pula, pemerintah melalui Kemendiknas dan Dinas Pendidikan setempat terus berusaha mensosialisasikan dan memfasilitasi agar guru dan sekolah dapat memahami tentang bagaimana seharusnya mengimplementasikan dan mengembangkan KTSP di kelas atau sekolah.

Kendati demikian, dalam benak saya timbul pertanyaan sudah sejauhmanakah keterlaksanaan dan efektivitas KTSP ini setelah memasuki tahun keempat  (tahun pelajaran 2009-2010) yang dianggap sebagai batas akhir bagi sekolah untuk memberlakukan KTSP di sekolah.

Meski tidak didukung sepenuhnya oleh data dan informasi yang sahih, saya meyakini bahwa secara struktural sebagian besar guru dan sekolah sudah memiliki kemampuan untuk memberlakukan KTSP. Dalam arti, dilihat dari muatan dan struktur mata pelajaran yang diajarkan di sekolah tampaknya sebagian besar sudah mengalami perubahan, disesuaikan dengan apa yang diisyaratkan dalam KTSP.

Tetapi jika dilihat secara kultural, tampaknya tingkat perubahannya masih perlu dipertanyakan dan diteliti lebih lanjut. Yang dimaksud perubahan kultural di sini adalah perubahan yang terjadi, terkait dengan pemenuhan prinsip-prinsip pengembangan KTSP yang justru merupakan ruh atau jiwa dari KTSP itu sendiri.

Berikut ini saya sajikan kembali prinsip-prinsip yang harus dipenuhi dalam pengembangan KTSP:

  1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
  2. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.
  3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
  4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
  5. Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
  6. Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
  7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca Juga :