Pandangan Ulama Tentang Kehujjahan Istihsan Dalam Syari’ah

Pandangan Ulama Tentang Kehujjahan Istihsan Dalam Syari’ah

Pandangan Ulama Tentang Kehujjahan Istihsan Dalam Syari’ah

Pandangan Ulama Tentang Kehujjahan Istihsan Dalam Syari’ah

Ada tiga pandangan ulama tentang nilai istihsan sebagai hujjah:

  1. Pendapat dari Hanafiyah, Malikiyah dan Hanbaliyah yang menyatakan bahwa istihsan adalah dalil syara’. Dengan alasan:
  2. Istihsan yang ditetapkan berdasarkan penelitian terhadap kasus-kasus dan hukum-hukum yang ternyata bahwa penggunaan qiyas, menerapkan yang umum atau dalil yangKulliyah, kadang-kadang, didalam beberapa kasus menybabkan hilangnya kemaslahatan manusia karena kasus-kasus ini mempunyai ke khususan-ke khususan tersendiri, merupakan suatu keadailan dan rahmad bagi manusia, apabila dibuka jalan bagi mujtahid didalam memecahkan kasus ini mentarjih dalil agar tercapai kemaslahatan dan tertolak kemudharatan dengan kata lain menolak kemafasadatan dan meraih kemaslahatan. Jadi istihsan dugunakan untuk mendapatkan kemanfaatan dan menolak kemudharatan atau menemukan maslahat yang lebih kuat atau mudharat yang lebih sedikit.
  3. Istihsan ditetapkan berdasarkan penelitian terhadap Nash-Nash syara’ yang menunjukkan bahwa Allah yang Maha bijaksana, berpindah dari sebagian kasus-kasus yang bisa digunakan qiyas atau umumnya Nash kepada hukum lain yang memberikan kemaslahatan dan menolak kemafsadatan, misalnya Allah mengharamkan bangkai, darah, daging babi, dan apa yang disembelih selain nama Allah. Dan Allah berfirman:

$yJ¯RÎ)tP§ymãNà6ø‹n=tæsptGøŠyJø9$#tP¤$!$#urzNóss9ur͍ƒÌ“YÏ‚ø9$#!$tBur¨@Ïdé&¾ÏmÎ/ÎŽötóÏ9«!$#(Ç`yJsù§äÜôÊ$#uŽöxî8ø$t/Ÿwur7Š$tãIxsùzNøOÎ)Ïmø‹n=tã4¨bÎ)©!$#Ö‘qàÿxîíOŠÏm§‘ÇÊÐÌÈ

Artinya: “barangsiapa terpaksa, sedangkan ia tidak menginginkannya dan tidak melebihi batas, maka tidaklah ada dosa baginya ( Q.S. Al-Baqarah: 173)

  1. Ulama-ulama yang menolak istihsan sebagai dalil syara’ dengan alasan sebagai berikut:
  2. Syari’at itu berupa Nash atau mengembalikan Nash kepada qiyas, maka dimanakah letaknya istihsan, dan istihsan bertentangan dengan firman Allah swt:

Ü=|¡øts†r&ß`»|¡RM}$#br&x8uŽøIビ´‰ß™ÇÌÏÈ

Artinya: “Adakah manusia menyangka bahwa ia akan dibiarkan percuma”. ( Q.S. Al-Qiyamah: 36)

  1. Banyak ayat-ayat Al-qur’an yang menyuruh taat kepada Allah swt dan taat kepada Rasul-Nya serta melarang untuk mengikuti hawa nafsu dan menyuruh kita kembali kepada Al-Qur’an dan al-Sunnah Nabi saw. apabila terjadi pertentangan hal ini sesuai dengan firmannya:

$pkš‰r’¯»tƒtûïÏ%©!$#(#þqãYtB#uä(#qãè‹ÏÛr&©!$#(#qãè‹ÏÛr&urtAqß™§9$#’Í<‘ré&ur͐öDF{$#óOä3ZÏB(bÎ*sù÷Läêôãt“»uZs?’Îû&äóÓx«çnr–Šãsù’n<Î)«!$#ÉAqß™§9$#urbÎ)÷LäêYä.tbqãZÏB÷sè?«!$$Î/ÏQöqu‹ø9$#ur̍ÅzFy$#4y7Ï9ºsŒ×Žöyzß`|¡ômr&ur¸xƒÍrù’s?ÇÎÒÈ

Artinya: “kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (As-Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang kemudian itu lebih utama bagimu dan lebih banyak akibatnya”. (Q.S. An-Nisa: 59)

  1. Nabi tidak pernah member fatwa dengan istihsan , dengan apa yang dianggap Beliau baik. Karena beliau tidak pernah memberi fatwa sesuai hawa nafsunya.
  2. Nabi menolak sahabat-sahabat yang berfatwa dengan istihsan atau apa yang dianggap baik, tidak menyetujui sahabat-sahabat yang membakar orang musyrik, atas dasar fatwa itulah yang mereka anggap baik.
  3. Istihsan tidak ada dhabitnya, tidak ada ukuran-ukuran mengqiyaskannya, sehingga apabila dihadapkan kepada seseorang mujtahid suatu kasus, dia akan menetapkan hukum sesuai dengan apa yang dianggap baik sesuai dengan seleranya.
  4. Apabila istihsan diperbolehkan dalam berijtihad, dan tidak berdasarkan Nas atau tidak dikembalikan kepada Nash, maka istihsan boleh dilakukan sipa saja, meskipun tidak mengetahui Al-Qur’an atas alasan-alasan ini, Asy-Syafi’I berkesimpulan: “barangsiapa menetapkan hukum dengan istihsan berarti dia membuat syari’at sendiri.
  1. Pendapat yang menyatakan bahwa istihsan adalah dalil syara’, akan tetapi bukan dalil yang mustaqil tetapi kembali kepada dalil syara’ yang lain sebab setelah diteliti kembali kepada maslahat. Pendapat ini dipegang antara lain Asy-Syaukaniyah. Sesungguhnya apabila kita teliti alasan-alasan imam syafi’I didalam menentang istihsan kemudian kita bandingkan dengan defenisi istihsan yang telah dikemukakan diatas tidak ada pertentangan yang prinsip. Alasannya baik mazhab Syafi’I maupun Hanafi apabila istihsan diartikan sebagai apa-apa yang dianggap baik oleh manusia saja sesuai dengan kenginan hawa nafsunya tanpa adanya dalil yang batil dan tidak bisa diterima. Apabila istihsan diartikan sebagai perpindahan dari suatu dalil kepada dalil lain yang lebih kuat maka pengertian semacam ini tidak ada yang akan menolaknya. Imam Asy-Syaukaniyah mengenai hal ini mengatakan bahwa orang yang mengambil istihsan sebagai dalil tidaklah ia semata-mata mendasarkan pendapatnya kepada perasaan dan syahwatnya tetapi ia kembali kepada apa yang ia ketahui tentang maksud syara’ secara keseluruhan.

Sumber: https://blog.fe-saburai.ac.id/seva-mobil-bekas/