Pencatatan Pernikahan: Sebuah Qiyas

Pencatatan Pernikahan Sebuah Qiyas

Pencatatan Pernikahan Sebuah Qiyas

Pencatatan Pernikahan Sebuah Qiyas
Pencatatan Pernikahan Sebuah Qiyas

Bagaimana bila pertimbangan-pertimbangan di atas digunakan untuk memahami pencatatan pernikahan? Kalau jual beli atau utang piutang saja Tuhan menyuruh mencatat, apatah lagi dengan perikatan (aqad) antara dua orang yang implikasinya sangat luas, tentu manusia boleh membuat aturan pencatatan pernikahan. Inilah mekanisme qiyas. Dalam qiyas diberlakukan persyaratan: harus ada keserupaan antara permasalahan pokok (al-ashl) dan turunannya (al-far’), terdapat keterkaitan penyebab (’illat) antara masalah pokok dan turunannya [5].

Perikatan nikah serupa dengan bentuk-bentuk perikatan yang lain. Dalam hal para pihak yang terlibat dalam perikatan, pernikahan merupakan perikatan antara seorang laki-laki dan seorang (wali) perempuan. Ini serupa dengan perikatan antara penjual dan pembeli, penyewa dan yang menyewakan, pemberi dan penerima utang. Dalam hal pernyataan perikatan, pernikahan mensyaratkan adanya ijab dan qabul. Ini berlaku juga untuk bentuk perikatan yang lain. Bila diperlukan, dapat dihadirkan dua orang saksi dalam perikatan. Pernikahan bahkan wajib disaksikan oleh paling sedikit dua orang saksi. Hal ini secara tersirat sekaligus menunjukkan bahwa ’illat yang menyebabkan adanya persaksian terdapat secara melekat pada pernikahan. Pernikahan juga serupa dengan jual beli dalam hal khiyar, yaitu hak untuk menentukan apakah perikatan diteruskan atau dibatalkan karena adanya ”cacat produk” atau karena hal-hal lain. Khusus pernikahan, khiyar hanya berlaku untuk ”cacat produk” saja [6]. Sebagai ilustrasi untuk menjelaskan khiyar: sebuah minimarket di dekat rumah penulis menjalankan kesepakatan bahwa barang yang dibeli boleh dikembalikan dalam tempo paling lama 24 jam sejak tanggal pembelian.

Tetapi tentu ada saja yang tetap menolak qiyas di atas. Penolakan karena memang menolak qiyas itu sendiri, atau menerima qiyas tetapi menolak argumentasi yang mendasarinya. Bukankan jual beli dan pernikahan adalah dua kegiatan yang berbeda.  Dalam kitab-kitab fikih, keduanya diletakkan dalam bab-bab yang berbeda!

Kalau qiyas ditolak, maka kita kembalikan saja pada logika fikih dalam memandang Surat Al-Baqarah ayat 282. Penulisan transaksi atau perikatan adalah keputusan otonomi manusia, berdasarkan kebutuhan manusia, bukan Tuhan.

Penutup

Penulis sepakat dengan substansi aturan pencatatan pernikahan sebagaiman RUU Perkawinan, meskipun ada beberapa kritik yang perlu diberikan. Misalnya, mengapa aturan itu hanya menghukum rakyat dan tidak menuntut pemerintah membuat sistem mangkus dan sangkil yang mampu menjangkau dan melindungi perempuan dan laki-laki di pelosok terpencil negeri tercinta ini. Jadi jangan benturkan aturan ini dengan syariat Allah. Jangan kaburkan persoalan, ini urusan manusia, kok!

(Minggu, 7 Rabiul Awwal 1431)

Catatan:

[1] Status ”Mbah” Izzuddin dalam situs jejaring sosial Facebook, 19 Februari 2010.

[2] Al-Thabari, Jami’ ‘l-Bayan fi Ta’wiil ‘l-Qur’an (Tafsir Al-Thabari). Riwayat Ibnu Abbas ini dibukukan dalam Sahih Al-Bukhari, hadits nomor 2094.

[3] Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin Al-Suyuthi, Tafsir Jalalayn.

[4] Sahih Muslim, hadits nomor 4358, diriwayatkan oleh Anas r.a.

[5] Kasyf Al-Asrar.

[6] Ada yang menolak dan menerima khiyar dalam pernikahan. Namun, kedua-keduanya melakukan qiyas terhadap jual-beli. Lihat Ibnu Rusyd, Bidayat ’l-Mujatahid wa Nihayat ’l-Muqtashid.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/kickass-commandos-apk/