Derajat Hadits


Derajat Hadits

Derajat HaditsDerajat Hadits

Hadits ini tergolong hadits shahih karena diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Beliau merupakan perawi yang telah memenuhi syarat dari hadits shahih. Hadits shahih merupakan hadits yang sanadnya muttasil (bersambung) kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui rawi-rawi dengan karakteristik moral yang baik (‘adl) dan tingkat kapasitas intelektualitas (dhobit). Tanpa ada kejanggalan maupun kecacatan baik matan maupun sanadnya.

  1. Biografi Perawi

Nama lengkapnya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash bin Uhaib Az-Zuhri dengan julukan “Abu Ishaq”, Ia adalah salah seorang diantara sepuluh orang sahabat yang mendapat kabar gembira bakal masuk surga, dan orang yang pertama dalam melontarkan panah dalam perang Sabillillah, ia orang yang ke empat lebih dulu masuk Islam melalui tangan Abu Bakar ketika umurnya 17 tahun.

Sa’ad bin Abi Waqqash mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, dalam peperangan itu ia bergabung dalam pasukan berkuda. Ia berasal dari bani Zuhrah seasal dengan ibu Nabi (Aminah).

Khilafah Umar bin Khaththab mengangkatnya menjadi komandan pasukan yang dikirimkan untuk memerangi orang Persia dan berhasil mengalahkannya pada tahun 15 H di Qadisiyah. Setahun setelahnya 16 H di Julailak ia menaklukan Madain dan Bani al-Kuffa pada tahun 17 H.

Sa’ad bin Abi Waqqash adalah penguasa Irak dimasa pemerintahan Umar bin Khaththab yang berlanjut pada masa pemerintahan Utsman bi Affan. Ia adalah seorang diantara enam sahabat orang yang dicalonkan menjadi Khalifah, sejak bencana besar atas terbunuhnya Utsman. Ia wafat pada tahun 55 H di Aqiq.

  1. Kesimpulan Hadits

Larangan hidup membujang

  1. Penjelasan Umum

Nikah adalah akad yang menimbulkan kebolehan bergaul antara laki-laki dan perempuan dalam tuntutan naluri kemanusiaan dalam kehidupan dan menjadikan untuk kedua belah pihak secara timbal balik hak-hak dan kewajiban-kewajiban.Dengan pernikahan seseorang dapat menjaga pandangannya dari hal-hal yang terlarang dan dapat menyalurkan tuntutan biologisnya secara halal.

Maksud mampu (al-ba’ah) dalam hadits pertama adalah mampu bersenggama.Di samping itu, nikah dapat berbeda hukumnya  jika dikaitkan dengan kondisi dan niat seseorang.Namun, bagi yang belum mampu hendaknya ia berpuasa. Puasa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan niat ikhlas mencari ridha Allah akan dapat mencegah akan dorongan nafsu syahwat yang tidak baik.

Selain itu, Rasulullah juga melarang kita untuk membujang. Sebab Allah telah menjadikan manusia berpasangan, dengan tugas untuk melakukan upaya pengembangbiakan dan berketurunan. Maka, dengan sendirinya membujang berlawanan dengan tugas fitrah yang dibebankan kepada manusia. Artinya, manusia yang hidup di atas bumi bertanggung jawab untuk melestarikan keturunan sampai pada saat Allah menetapkan terjadinya kiamat kelak.

Apabila ada seorang yang membujang tanpa ada alasan yang dibenarkan menurut ajaran Islam, berarti dia telah melakukan tindakan ingkar kepada syariat. Selain itu, tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai perbuatan kufur kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.

RECENT POSTS