Pengertian dan Tipologi Inkar as-Sunnah


Pengertian dan Tipologi Inkar as-Sunnah

Terdiri dari dua kata yaitu Ingkar dan Sunnah. Ingkar, menurut bahasa, artinya “menolak atau mengingkari”, berasal dari kata kerja, اَنْكَرَ-يُنْكِرُ ankara-yunkiru. Sedangkan sunnah, menurut bahasa mempunyai beberapa arti diantaranya adalah, “jalan yang dijalani, terpuji atau tidak” suatu tradisi yang sudah dibiasakan dinamai sunnah, meskipun tidak baik. Secara definitif Inkar as-Sunnah dapat ddiartikan sebagai suatu nama atau aliran atau suatu paham keagamaan dalam masyarakat Islam yang menolak atau mengingkari Sunnah untuk dijadikan sebagai sumber san dasar syari’at Islam. Menurut Daud Rasyid (2006:207) “Inkar as-sunnah adalah sebuah sikap penolakan terhadap sunnah Rasul, baik sebagian maupun seluruhnya“. Dan menurut Umi Sumbulah (2000:143) “Inkar as-sunnah adalah golongan kaum muslimin yang meragukan kehujjahan dan menolak sunnah sebagai sumber syari’at Islam setelah al-Quran”. Secara bahasa pengertian hadits dan sunnah sendiri terjadi perbedaan di kalangan para ulama, ada yang menyamakan keduanya dan ada yang membedakan. Pengertian keduanya akan disamakan seperti pendapat para muhadditsin, yaitu suatu perkataan, perbuatan, takrir dan sifat Rasulullah saw. Sementara pendapat Nurcholis Majid (2008:27) “Yang terjadi dalam sejarah Islam hanyalah pengingkaran terhadap hadits Nabi saw, bukan pengingkaran terhadap sunnahnya”. Nurcholis Majid membedakan pengertian hadits dengan Sunnah. Sunnah menurut beliau adalah pemahaman terhadap pesan atau wahyu Allah dan teladan yang diberikan Rasulullah dalam pelaksanaannya yang membentuk tradisi atau sunnah. Sedangkan hadits merupakan peraturan tentang apa yang disabdakan Nabi saw. atau yang dilakukan dalam praktek atau tindakan orang lain yang di diamkan beliau (yang diartikan sebagai pembenaran). Kata “Inkar as-Sunnah” dimaksudkan untuk menunjukkan gerakan atau paham yang timbul dalam masyarakat Islam yang menolak hadits atau sunnah sebagai sumber kedua hukum Islam. Dan menurut Ibid (2007:5) “Inkar as-sunnah tidak semata-mata penolakan total terhadap sunnah, penolakan terhadap sebagian sunnah pun termasuk inkaar as-sunnah” . Menurut Imam Syafi’i, Sunnah Nabi saw ada tiga macam:

  1. Sunnah Rasul yang menjelaskan seperti apa yang dinash-kan oleh al-Quran.
  2. Sunnah Rasul yang menjelaskan makna yang dikehendaki oleh al-Quran. Tentang kategori kedua ini tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama.
  3. Sunnah Rasul yang berdiri sendiri yang tidak ada kaitannya dengan al-Quran.

Sejarah Inkar as-Sunnah

  1. Inkar as-Sunnah Pada Masa Periode Klasik

Pertanda munculnya “Inkar as-Sunnah” sudah ada sejak masa sahabat, ketika ’Imran bin Hushain (w. 52 H) sedang mengajarkan hadits, seseorang menyela untuk tidak perlu mengajarkannya, tetapi cukup dengan mengerjakan al-Quran saja. Menanggapi pernyataan tersebut Imran menjelaskan bahwa “kita tidak bisa membicarakan ibadah (shalat dan zakat misalnya) dengan segala syarat-syaratnya kecuali dengan petunjuk Rasulullah saw”. Mendengar penjelasan tersebut, orang itu menyadari kekeliruannya dan berterima kasih kepada Imran.

Hal serupa juga pernah terjadi pada Umayyah bin Khalid bahwa dasar itu hanya pada al-Quran saja. Akhirnya ia berkata kepada Abdullah ibn ’Umar bahwa di dalam al-Quran ia hanya menemukan masalah shalat di rumah dan pada waktu perang saja, sedang masalah shalat di perjalanan tidak ditemukan. (Umi Sumbulah, 2000:146). Sikap penampikan atau pengingkaran terhadap sunnah Rasul saw yang dilengkapi dengan argumen pengukuhan baru muncul pada penghujung abad ke-2 Hijriyah pada awal masa Abbasiyah. Pada masa ini bermunculan kelompok inkar as-sunnah.

Menurut imam Syafi’i ada tiga kelompok inkar as-sunnah seperti telah dijelaskan di atas. Antara lain:

  1. Khawarij dari sudut kebahasaan, kata khawarij merupakan bentuk jamak dari kata kharij yang berarti sesuatu yang keluar. Sementara menurut pengertian terminologis khawarij adalah kelompok atau golongan yang pertama keluar dan tidak loyal terhadap pimpinan yang sah. Dan yang dimaksud dengan khawarij disini adalah golongan tertentu yang memisahkan diri dari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib r.a. Ada sumber yang mengatakan bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat sebelum terjadinya fitnah yang mengakibatkan terjadinya perang saudara. Yaitu perang jamal (antara sahabat Ali r.a dengan Aisyah) dan perang Siffin ( antara sahabat Ali r.a dengan Mu’awiyah r.a). Dengan alasan bahwa seelum kejadian tersebut para sahabat dinilai sebagai orang-orang yang ‘adil (muslim yang sudah akil-baligh, tidak suka berbuat maksiat, dan selalu menjaga martabatnya). Namun, sesudah kejadian fitnah tersebut, kelompok khawarij menilai mayoritas sahabat Nabi saw sudah keluar dari islam. Akibatnya, hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat setelah kejadian tersebut mereka tolak. Seluruh kitab-kitab tulisan orang-orang khawarij sudah punah seiring dengan punahnya mazhab khawarij ini, kecuali kelompok Ibadhiyah yang masih termasuk golongn khawarij. Dari sumber (kitab-kitab) yang ditulis oleh golongan ini ditemukan Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh atau berasal dari Ali, Usman, Aisyah, Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan lainnya. Oleh karena itu, pendapat yang menyatakan bahwa seluruh golongan khawarij menolak Hadits yang diriwayatkan oleh Shahabat Nabi sa w, baik sebelum maupun sesudah peristiwa tahkim adalah tidak benar.

Baca juga: