Pengertian Sematik


 Pengertian Sematik

Semantik dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani ‘semainein’ yang berarti ‘bermakna’. Kata bendanya adalah ‘sema’ yang berarti ‘tanda’ atau ‘lambang’.Kata kerjanya adalah ‘semaino’ yang berarti ‘menandai’ atau ‘memaknai’. Yang dimaksud tanda atau lambang disini adalah tanda-tanda linguistik (Perancis : signé linguistique). Menurut Ferdinan de Saussure (1966), tanda lingustik terdiri dari : 1) Komponen yang menggantikan, yang berwujud bunyi bahasa. 2) Komponen yang diartikan atau makna dari komopnen pertama. Kedua komponen ini adalah tanda atau lambang, dan sedangkan yang ditandai, dilambangkan atau dimaknai adalah sesuatu yang berada di luar bahasa, atau yang lazim disebut sebagai referent / acuan / hal yang ditunjuk.

Banyak ahli yang telah berusaha untuk mendefinisikan atau memberikan batasan tentang semantik.Ternyata dari pengertian tersebut ada pula yang berbeda. Berikut pengertian semantic menurut para ahli :

  1. Semantik adalah cabang linguistik yang bertugas semata-mata meneliti makna (Verhaar,1964:1)
  2. Semantik adalah studi tentang makna [(Palmer, 1981: 9) dan (Aminudin1983:15)]
  3. Semantik adalah studi tentang makna bahasa (Katz, 1971: 3)

Jika kita telaah dari ketiga pengertian di atas, maka pengertian semantik menurut Verhaar adalah terasa sempit, karena semantik hanya menelaah makna kata, sedangkan dalam ilmu linguistik mengkaji pula tentang frasa, klausa, kalimat, dan wacana. Pengertian menurut Palmer dan Aminudin kajiannya sangat luas, karena tidak hanya mengkaji makna satuan-satuan bahasa saja, namun memungkinkan adanya pemaknaan dari berbagai bidang telaahan/studi.Berikutnya pengertian menurut Katz kajiannya tidak terlalu sempit dan juga tidak terlalu luas. Hal ini diperkuat oleh pendapat Leech 1974: x bahwa ‘semantik adalah salah satu cabang linguistik, yaitu kajian ilmu yang mengkaji bahasa. Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa fonologi dan sintaksis mengkaji struktur bahasa, sedangkan semantik mengkaji makna yang diungkapkan dalam struktur tersebut.

  1. Pengertian Tanda, Lambang, Konsep, dan Definisi

Tanda dalam bahasa Indonesia pertama-tama adalah berarti “bekas”. Pukulan rotan yang cukup keras pada punggung akan memberi bekas. Bekas pukulan itu, yang berwarna kemerahan, menjadi tanda akan telah terjadi suatu pukulan dengan rotan pada tempat tersebut. Dari contoh diatas kita dapat melihat bahwa dengan hal yang ditandai bersifat langsung.

Lambang sebenarnya juga adalah tanda. Hanya bedanya lambang ini tidak memberi tanda secara langsung, melainkan melalui sesuatu yang lain. Warna merah pada bendera sang merah putih merupakan lambang “kesucian”. Seperti kata Ogden dan Richard (1972 : 9) lambang ini bersifat konvensional, perjanjian, tetapi ia dapat diorganisir, direkam dan dikomunikasikan.

Bunyi-bunyi bahasa atau satuan bahasa sebenarnya termasuk lambang sebab sifatnya konvensional. Untuk memahami makna atau yang diacu oleh bunyi-bunyi bahasa itu kita harus mempelajarinya.

Simbol adalah kata serapan yang berpadangan dengan kata Indonesia lambang. Dalam karangan ini kedua kata itu dianggap mewakili konsep yang sama, meskipun mungkin distribusi penggunaan berbeda.

Lambang bahasa yang berupa kata, gabungan kata, maupun satuan ujaran lainnya sama dengan lambang dan tanda dalam bidang lain “mewakili” suatu konsep yang berada didunia ide atau pikiran kita. Umpamanya kata (kursi) “mewakili” suatu konsep dalam benak kita berupa benda yang bisa digunakan sebagai tempat duduk dengan wujudnya yang sedemikian rupa sehingga nyaman untuk di duduki.

Konsep sebagai referen dari suatu lambang memang tidak pernah bisa “sempurna”. Oleh karena itulah, kalau kita menyebut (kursi) atau (pemuda) atau lambang apa saja, orang sering bertanya “apa yang anda maksud dengan kursi itu ?” atau juga “apa atau siapa yang anda maksud dengan pemuda itu? Semua itu berusaha merumuskan konsep-konsep yang ada dalam dunia, idenya dalam suatu rumusan yang disebut definisi atau batasan. Secara umum definisi atau batasan ini memberi rumusan yang lebih teliti mengenai suatu konsep.

  1. Jenis-jenis Semantik

Beberapa jenis semantik yang dibedakan berdasarkan tataran atau bagian dari bahasa itu yang menjadi objek penyelidikannya, yaitu:

  • Semantik Leksikel

Leksikel adalah bentuk ajektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon (vocabulary, kosakata, pembendaharaan kata). Satuan dari leksikon adalah leksem, yaitu satuan kata yang bermakna ( Chaer, 2002: 60 dalam Wahab 1995 ). Kalau leksikon disamakan dengan kosakata atau perbendaharaan kata, maka leksem dapat disamakan dengan kata. Dengan demikian, makna leksikel dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, atau bersifat kata.

  • Semantik Gramatikal

Tataran tata bahasa atau gramatika dibagi menjadi dua subtataran, yaitu morfologi dan sintaksis. Morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari struktur intern kata, serta proses-proses pembentukannya; sedangkan sintaksis adalah studi mengenai hubungan kata dengan kata dalam membentuk satuan yang lebih besar, yaitu frase, klausa, dan kalimat. Satuan-satuan morfologi, yaitu morfem dan kata, maupun satuan sintaksis yaitu kata, frase, klausa, dan kalimat, jelas ada maknanya. Baik proses morfologi dan proses sintaksis itu sendiri juga makna. Oleh karena itu, pada tataran ini ada masalah-masalah semantik yaitu yang disebut semantik gramatikal karena objek studinya adalah makna-makna gramatikal dari tataran tersebut.