Persyaratan Tempo


Persyaratan Tempo

Menurut Syafi’iyah, masuk dalam kategori syarat fasid tidak pada mufsid. Kefasidaannya terletak pada tempo yang merupakan ciri dari transaksi barang ribawi, sementara itu tidak mufsid dikarenakan tidak mendzalimi muqtaridl.

Dalam hal penagihannya, meski sudah terdapat jangka waktu, ia boleh menagihnya kapanpun karena hal tersebut sesuai dengan akad qardlu yang dimana seorang muqridl dapat menagih sesuai keinginannya.

Meskipun demikian terdapat norma sosial dan etika yang menganjurkan untuk menagih tepat pada jangka waktu yang telah ditentukan agar tidak menyusahkan pihak muqtaridl. Hal tersebut merupakan bentuk kemurahan (tabarru’) oleh muqridl. Hukumnya mubah dan tidak harus dilaksanakan.

Sementara itu, menurut Imam Malik, syarat tempo dalam akad qardlu termasuk syarat shahih, baik di awal akad (ibtida’an), seperti hutang dengan syarat dibayar pada tempo tertentu, atau di tengah akad (intha’an), seperti hutang dengan pembayaran cash (hal) kemudian disyaratkan tempo (ajal).[15]

  1. Syarat Shahih

Yaitu klausul-klausul yang disyaratkan dalam akad qardlu hanya bersifat sebagai jaminan (watsiqah), seperti syarat gadai (rahn), syarat persaksian (isyhad), syarat ada penanggung jawab (kafil), dll. Sebab, muatan klausul-klausul demikian hanya bersifat sebagai keuntungan yang lebih (naf’an za’idan), sehingga masih sejalan dengan konsekuensi akad (muqtadla al’aqd).[16]

2.4.3        Sistem Pembayaran

Apabila barang yang dijadikan akad qardlu memiliki padanan (mitsli) maka dapat dikembalikan dengan barang yang sama dan hal tersebut hukumnya sah. Sistem tersebut yang paling mendekati dengan pemenuhan hak atas muqridl.

Sementara itu, apabila barang yang dipinjamkan tidak memiliki padanan (mutaqawwim), dalam hal tersebut terdapat perbedaan antar ulama’. Salah satu pendapat menyatakan bahwa pembayarannya dengan mengganti padanan yang sama bentuknya.

Sementara itu, lain pihak berpendapat bahwa harus diganti dengan harga yang sesuai dengan barang yang dipinjam atau lebih biasa disebut qimah (mengganti nilai harga).

Besarnya qimah dilihat dari sejak kapan menjadi kepemilikan muqtaridl. Apabila kepemilikan barang sejak penerimaan barang, maka qimah-nya sebesar itu pula. Apabila kepemilikannya baru terhitung sejak mentasarufkan barang, maka qimah-nya merupakan harga tertinggi antara penerimaan hingga tasaruf.

Sumber :

https://callcenters.id/