Prinsip-Prinsip Etika Bisnis Islam


Prinsip-Prinsip Etika Bisnis Islam

Prinsip-Prinsip Etika Bisnis Islam

Prinsip-Prinsip Etika Bisnis Islam

2.1.1        Upaya Membangun Bisnis yang Sesuai Dengan al-Qur’an

Selama ini dalam pemikiran kita telah didominasi oleh pandangan hidup materialisme pada satu sisi dan pandanganketerpisahan antara kehidupan dunia dan kehidupan agama. Kedua sisi ini harus didasari telah membenamkan kesadaran kita kepada keyakinan bahwa bisnis merupakan aktivitas dunia yang hanya diperuntukanbagi pemenuhan kebutuhan hidup yang bersifat jasmaniah semata. Karena itu upaya mewujudkan etika bisnis untuk membangun bisnis yang sesuai dengan al-Qur’an dapat dilakukan beberapa hal, pertama, suatu rekonstruksi kesadaran baru tentang bisnis. Pandangan bahwa etika bisnis sebagai bagian tak terpisahkan atau menyatu merupakan struktur fundamental sebagai perubahan terhadap anggapan dan pemahaman tentang kesadaran sistem bisnis amoral yang telah memasyarakat. Bisnis dalam al-Qur’an disebut sebagai aktifitas yang bersifat material sekaligus inmaterial. Sehingga suatu bisnis dapat disebut bernilai, apabila kedua tujuannya yaitu pemenuhan kebutuhan material dan spiritual telah dapat terpenuhi secara seimbang. Dengan pandangan kesatuan bisnis dan etika, pemahaman atas prinsip-prinsip etika suatu bisnis bernilai, apabila memenuhi kebutuhan material dan spiritual secara seimbang, tidak mengandung kebatilan, kerusakan, dan kezalima. Akan tetapimengandung nilai kesatuan, keseimbangan, kehendak bebas, pertanggung jawaban, kebenaran, kebajikan, dan kejujuran.[1]

Dengan demikian etika bisnis dapat dilaksanakan oleh siapapun. Kedua, yang patut dipertimbangkan dalam upaya mewujudkan etika bisnis untuk membangun tatanan bisnis yang Islami yaitu diperlukan suatu cara pandang baru dalam melakukan kajian-kajian keilmuan tentang bisnis dan ekonomi yang lebih berpijak pada paradigma pendekatan normatifetik sekaligus empirik indiktuf yang mengedepankan panggalian dan pengembangan nilai-nilai al-Qur’an, agar dapat mengatasi perubahan dan pergeseran zaman yang semakin cepat. Atau dalam kategori pengembangan ilmupengetahuan modern harus dikembangkan dalam pola pikir abductive pluralistic. Dengan pola pikir ini pengembangan ilmu-ilmu keislaman akan menjadi tajam dan proaktif terhadappersoalan-persoalan kontemporer dan dapat mentransformasikan norma-norma dan nilai-nilai agama kedalam bingkai keilmuan sebagai cultural forse.

Perwujudan lima prinsip (aksioma) dalam ilmu ekonomi Islam yang mesti diterapkan dalam bisnis syari’ah demi terciptanya bisnis yang sesuai al-Qur’an adalah sebagai berikut:[2]

 

Sumber :

https://nomorcallcenter.id/