Sekilas Tentang Animisme Dan Dinamisme


Sekilas Tentang Animisme Dan Dinamisme

v  Animisme

Pandangan hidup masyarakat Jawa memang berakar jauh ke masa lalu. Masyarakat Jawa sudah mengenal Tuhan sebelum datangnya agama-agama yang berkembang seperti sekarang ini. Suku bangsa Jawa sejak zaman prasejarah telah memiliki kepercayaan animisme yaitu kepercayaan kepada makhluk halus atau roh.

Animisme berasal dari kata anima, anime; dari bahasa Latin Animus, dan bahasa Yunani Avepos, dalam bahasa Sanskerta disebut Prana, dalam bahasa Ibrani disebut Ruah, yang artinya napas atau jiwa.[2]

Dalam Kamus Ilmiah Populer juga dijelaskan bahwa animisme adalah suatu paham bahwa alam ini atau semua benda memiliki roh atau jiwa.[3]

Kuncoroningrat dalam bukunya yang berjudul Sejarah Kebudayaan Indonesia juga menjelaskan bahwa animisme adalah kepercayaan yang menganggap bahwa  semua yang bergerak dianggap hidup dan mempunyai kekuatan ghaib atau memiliki roh yang berwatak baik maupun buruk.[4]

Dapat disimpulkan bahwa animisme adalah suatu kepercayaan tentang adanya roh atau jiwa pada benda-benda, tumbuh-tumbuhan, hewan dan juga pada manusia sendiri atau dengan kata lain animisme itu mempercayai bahwa setiap benda yang ada di bumi ini (seperti laut, gunung, hutan, gua, atau tempat-tempat tertentu), memiliki jiwa yang harus dihormati agar jiwa tersebut tidak mengganggu manusia tetapi malah membantu mereka.

Secara  singkat, animisme dapat diartikan kepercayaan masyarakat terhadap roh leluhur. Dalam keyakinan masyarakat ini, mereka meyakini bahwa orang yang telah meninggal dianggap sebagai yang maha tinggi, menentukan nasib dan mengontrol perbuatan manusia. Roh orang yang meninggal dianggap dan dipercayai mereka sebagai makhluk kuat yang menentukan segala kehendak dan kemauan yang harus dilayani.[5]

Dengan kepercayaan tersebut mereka beranggapan bahwa disamping semua roh yang ada, terdapat roh yang paling berkuasa dan lebih kuat dari manusia. Dan, agar terhindar dari roh tersebut mereka menyembahnya dengan jalan mengadakan upacara disertai sesaji. Upacara tersebut dilakukan oleh masyaratakat Jawa agar keluarga mereka terlindung dari roh jahat.[6] Itu semua mereka lakukan karena mereka percaya bahwa roh-roh leluhur mampu memberikan sabda ramalan kepada anak keturunan mereka yang selalu meminta saran pada saat dalam keadaan kesulitan.[7]

 

Sumber :

https://finbarroreilly.com/